Showing posts with label Penyakit. Show all posts
Showing posts with label Penyakit. Show all posts

Sunday, June 24, 2012

Fase Tingkatan Demam Berdarah

Fase Demam Berdarah. Penyakit demam berdarah ini adalah jenis penyakit yang seringkali mewabah pada daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini tercatat dalam sejarah untuk pertama kali menjadi endemi pada tahun 1779 - 1780 di Asia, Afrika dan juga di Amerika Utara dan terjadi secara hampir bersamaan dengan tingkat morbiditas dan juga mortalitas yang tinggi. Bila dilihat dari tahun kejadiannya berarti bahwa penyakit demam berdarah dengue DBD ini telah terjadi penyebarannya sejak lebih dari 200 tahun yang lalu.

Kali ini Blog Keperawatan akan mencoba sharing sedikit mengenai fase dan tingkatan demam berdarah dan semoga nantinya dengan kita mengenal akan fase demam berdarah dan juga tingkatan demam berdarah akan menambah wawasan kesehatan kita dan kita akan lebih waspada kepada demam berdarah dengue DBD ini kemudian hari dan tentunya kita bisa melakukan pencegahan dan pengobatan DHF dengan baik.

fase demam berdarah, derajat tingkatan demam berdarah, Blog Keperawatan

Untuk yang pertama kita menginjak kepada fase demam berdarah ini. Badan Kesehatan Dunia WHO dalam hal ini membagi fase demam berdarah dalam 3 fase yaitu fase demam tinggi (febris), fase kritis, dan fase penyembuhan (pemulihan). Berikut penjelasannya mengenai ketiga fase demam berdarah DBD tersebut :
  1. Fase Demam Tinggi (Febris). Pada fase demam berdarah yang pertama ini terjadi pada hari ke 1 - 3 dan ditandai dengan demam yang mendadak tinggi disertai sakit kepala, badan terasa ngilu dan nyeri, mual. Seringkali disertai dengan bintik merah di kulit yang tidak hilang saat kulit diregangkan. Pada beberapa kasus yang terjadi, bahkan ditemukan adanya nyeri tenggorokan, infeksi pada farings (tenggorokan) dan juga pada konjungtiva (selaput yang melindungi kornea mata), anoreksia, mual dan muntah.
  2. Fase Kritis. Pada fase kedua demam berdarah ini terjadi pada hari ke 4 - 5. Fase ini ditandai dengan demam yang mulai menurun disertai dengan penurunan kadar trombosit dalam darah dan fase ini seringkali mengecohkan karena seolah-olah demamnya turun dan penyakitnya sembuh. Namun inilah yang disebut Fase Kritis Demam Berdarah dan kemungkinan terjadinya Dengue Shock Sindrome DSS. Pada fase ini dapat terjadi pendarahan hidung, mulut, kulit pucat dan dingin, serta terjadi penurunan kesadaran.
  3. Fase Penyembuhan (Pemulihan). Pada fase ini terjadi pada hari ke 6 - 7. Dalam fase penyembuhan ini keadaan umum dari penderita mulai membaik. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali , hemodinamik (peredaran darah) stabil dan diuresis (frekuensi kencing) membaik dan akan kembali normal. Dan pada saat ini akan jauh lebih baik bila penderita diberikan gizi yang baik untuk meningkatkan keadaannya serta juga meningkat kadar daripada trombositnya.
Dalam dunia media kita juga mengenal akan tingkatan derajat demam berdarah. Berikut adalah tingkatan demam berdarah menurut WHO :
  1. DHF derajat I. Pada derajat pertama ini tanda yang kita temukan adalah diantaranya adanya tanda infeksi virus, dengan manifestasinya yang berupa perdarahan yang tampak hanya dengan Uji Torniquet positif.
  2. DHF derajat II. Pada derajat kedua ini makan tanda infeksi virus didapatkan dengan manifestasinya yang berupa adanya perdarahan spontan (mimisan, bintik-bintik merah)
  3. DHF derajat III. Pada derajat kedua ini seringkali disebut dengan fase pre syok, dengan tanda DHF grade II namun penderita mulai mengalami tanda syok ditandai dengan : kesadaran yang mulai menurun, tangan dan kaki dingin, nadi teraba cepat dan lemah, tekanan nadi masih terukur walaupun kecil.
  4. DHF derajat IV. Pada fase keempat dari demam berdarah dengue ini seringkali kita menyebutnya dengan fase syok (disebut juga dengue syok syndrome/DSS), penderita syok dalam dengan kesadaran sangat menurun hingga koma, tangan dan kaki dingin dan pucat, nadi sangat lemah sampai tidak teraba, tekanan nadi tidak dapat terukur.
Demikian tadi sahabat sedikit mengenai fase dan tingkatan demam berdarah. Point pentingnya adalah bahwasannya kita harus waspada kepada penyakit demam berdarah ini dan bila ditemukan tanda serta gejala yang telah disebutkan di atas maka cepatlah datang ke tempat pelayanan kesehatan yang tersedia untuk mendapatkan perawatan dan juga pengobatan yang tepat. Karena dengan pengobatan dan perawatan yang cepat serta akurat akan menurunkan resiko kematian dan tentunya dengan tidak melupakan pencegahan demam berdarahnya. Dan akhir kata semoga berguna serta dapat bermanfaat sahabat semuanya.

Thursday, June 21, 2012

Penyakit Bronkopneumonia

Penyakit Bronkopneumonia. Penyakit Bronkopneumonia adalah merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya yang tinggi, dan tidak terjadi hanya di negara berkembang seperti Indonesia tetapi juga di negara maju seperti di Amerika Serikat misalnya terdapat 2-2 juta kasus pertahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang. Nah kali ini Blog Keperawatan akan sharing mengenai penyakit bronkopneumonia ini dan semoga bisa memberikan manfaat.

Bronkopneumonia merupakan pneumonia yang terdapat di daerah bronkus kanan maupun kiri atau pada keduanya. Bronkopneumonia (pneumonia lobularis) adalah peradangan pada parenkim paru yang awalnya terjadi di bronkioli terminalis dan juga dapat mengenai alveolus sekitarnya. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan.

Penyakit bronkopneumonia ini seringkali bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang lemah, pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer. Bronkopneumonia sering disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

penyakit bronkopneumonia,Bronkopneumonia anak, Blog Keperawatan

Berikut beberapa pengertian bronkopneumonia :
Bronkpneumonia adalah frekuensi komplikasi pulmonari, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G Bare, 1993).
Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate. (Whalley and Wong, 1996)
Bronkopneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing. (Ngastiah, 2003)

Etiologi Penyebab Bronkopneumonia :
  1. Bakteri. Bakteri pada bronkopneumonia biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti halnya : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Sedangkan bakteri gram negatif seperti halnya Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
  2. Virus. Dalam hal ini disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
  3. Jamur. Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
  4. Protozoa. Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
Patofiologi Bronkopneumonia adalah sebagai berikut :
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronkopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan bronkus dan alveolus. Inflamasi bronkus ini ditandai dengan adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.

Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema ( tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas.

Gejala tanda bronkopneumonia :
  • Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan. Bisa berupa nyeri pleuritik, nafas dangkal dan mendengkur, takipnea.
  • Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi. Mengecil, kemudian menjadi hilang, Krekels, bunyi ronki, egofoni.
  • Menggigil dan demam 38°C sampai 41°C, Bila berlanjut bisa terjadi delirium.
  • Diafoesis.
  • Gerakan dada tidak simetris.
  • Malaise.
  • Baruk produktif, kental.
  • Sianosis.
  • Gelisah.
Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan pada bronkopneumonia untuk menegakkan diagnosis diantaranya yaitu :
  1. Rontgen Dada : Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.
  2. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.
  3. Pemeriksaan fungsi paru. Pada pemeriksaan ini akan didapatkan volume paru mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain paru menurun, terjadi hipoksemia.
  4. Analisa Gas Darah. Pada pemeriksaan darah ini biasanya akan didapatkan hasil yang tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
Penatalaksanaan :
  1. Kemoterapi. Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur spatum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa, 1989).
  2. Pengobatan dan Perawatan Umum.
Pengobatan bronkopneumonia dan perawatan bronkopneumonia umum yang dilaksanakan adalah diantaranya :
  • Terapi Oksigen. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus yang berat.
  • Hidrasi Cairan. Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral. (menggunakan infus)
  • Simptomatik terhadap batuk.
  • Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan bronkodilator
Komplikasi Bronkopneumonia.
Penyakit bronkopneumonia ini selain terjadi pada dewasa, seringkali juga terjadi bronkopneumonia pada anak. Berikut beberapa komplikasi dari penyakit bronkopneumonia yaitu :
  1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
  2. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
  3. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
  4. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
  5. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
  6. Infeksi sitemik .
Demikian sahabat sedikit mengenai penyakit bronkopneumonia dan selanjutnya nanti akan di posting kelanjutannya tetapi dilihat dari sudut keperawatannya yaitu tentang askep bronkopneumonia dan semoga bermanfaat sahabat semuanya.

Monday, June 4, 2012

Penyakit Asma Bronkial

Penyakit Asma Bronkial. Penyakit asma bronkial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Itu adalah pengertian penyakit asma bronkial menurut (Smeltzer, 2002 : 611) ada juga yang mengartikan sebagai
penyakit jalan nafas yang tidak dapat pulih yang terjadi karena spasme bronkus disebabkan oleh berbagai penyebab misalnya alergen, infeksi, latihan. Spasme bronkus meliputi konstriksi otot polos, edema mukosa dan mukus berlebihan dengan perlengketan di jalan nafas pada tahap lanjut. (Hudak, 1997 : 565)
Kali ini Blog Keperawatan anak mencoba share sedikit mengenai penyakit asma bronkial ini dan semoga bisa berguna dan bermanfaat.

Penyakit asma bronkial adalah salah satu penyakit paru yang berkaitan erat dengan saluran nafas serta pernafasan. Oleh sebab itu bila penyakit paru asma ini kambuh akan menimbulkan gejala yang khas sekali yaitu bunyi nafas mengi, bengek, batuk dan juga sesak nafas. Bunyi mengi pada asma terdengar ketika seorang penderita menghembuskan nafasnya. Serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap juga akan semakin memburuk jika tidak segera dilakukan tindakan pengobatan dan juga perawatan.

penyakit asma bronkiale, penyakit asma, penyakit paru, Blog Keperawatan

Selanjutnya menginjak kepada penyebab asma bronkial ini. Penyebab dari asma bronchiale ini terdiri dari dua faktor yaitu faktor intrinsik dan juga faktor ekstrinsik.
Dua hal tersebut yang bisa menyebabkan penyakit asma bronkial yaitu :
1. Faktor Intrinsik ( asma non imunologi / asma non alergi ) :
  1. Infeksi : Parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal.
  2. Fisik : Cuaca yang dingin, perubahan temperatur secara dratis.
  3. Iritan : Kimia.
  4. Polusi udara : Karbondioksida, asap rokok, parfum.
  5. Emosional : rasa takut, cemas dan tegang.
  6. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus. (Suriadi, 2001 : 7)
2. Faktor Ekstrinsik ( asma imunologik / asma alergi) :
  1. Inhalasi (menghirup )alergen ( seperti halnya debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang ).
  2. Reaksi antigen-antibodi.
Penyakit asma bronkial ini merupakan salah satu penyakit kronik (menahun) serta juga penyakit paru dan juga dengan pasien terbanyak di dunia. Diperkirakan berkisar 300 juta orang di dunia menderita penyakit asma jenis ini. Angka ini akan jauh lebih besar jika kriteria diagnosanya diperlonggar atau ditambahi. Di Indonesia negara kita tercinta ini, diperkirakan sampai 10 persen penduduk ( kurang lebih sekitar 12 juta orang ) mengidap dalam berbagai jenis penyakit asma.

Selanjutnya kita melangkah ke tanda gejala penyakit asma bronkiale ini. Tanda serta gejalanya terbagi dalam dua kategori yaitu kategori stadium dini dan stadium kronik (lanjut).
1. Stadium Dini.
Bila pada stadium dini ini faktor hipersekresi yang lebih menonjol maka tanda dan gejala yang didapatkan adalah :
  • Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek.
  • Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul.
  • Suara wheezing belum ada.
  • Belum ada kelainan bentuk thorak pada rontgen thorak pasien.
  • Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E.
  • Hasil BGA belum patologis.
Sedangkan bila pada stadium dini ini faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan maka tanda serta gejala yang didapatkan adalah :
  • Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum.
  • Wheezing.
  • Ronchi basah bila terdapat hipersekresi.
  • Penurunan tekanan parsial O2.
2. Stadium Kronik ( Lanjut )
Tanda dan gejala penyakit asma bronkial pada stadium tingkat lanjut ini adalah :
  1. Batuk, ronchi
  2. Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan.
  3. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan.
  4. Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest).
  5. Thorak seperti barel chest.
  6. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus.
  7. Sianosis.
  8. Hasil BGA Pa O2 kurang dari 80%.
  9. Rontgen paru terdapat adanya peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri.
  10. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik.
Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan dalam membantu menegakkan diagnosa penyakit asma ini yaitu diantaranya :
  • Spirometri (Tidal volume, kapasitas vital)
  • Pemeriksaan sputum dan pemeriksaan eosinofil total (biasanya meningkat dalam darah dan sputum).
  • Pemeriksaan alergi (Radioallergosorbent Test : RAST) : uji kulit, kadar Ig E total dan Ig E specifik dalam sputum
  • Rontgen thorak.
  • Analisa Gas Darah.
Demikian tadi sahabat sedikit tentang penyakit asma bronkial dan semoga bisa berguna serta dapat bermanfaat. Dan semoga yang sedikit ini tentang penyakit asma dapat bermanfaat sahabat.

Friday, June 1, 2012

Anemia Kurang Darah

Penyakit Anemia. Seringkali kita mendengar akan istilah anemia ini atau masyarakat umum lebih familiar dengan istilah kurang darah. Nah kali ini Blog Keperawatan akan mencoba share pengetahauan kesehatan mengenai penyakit anemia ini dan semoga bisa memberikan manfaat.

Anemia adalah suatu keadaan dimana saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (HB)(protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Itu adalah pengertian anemia ditinjau dari sisi medisnya.

Hemoglobin yang tadi disebutkan diatas merupakan pigmen yang membuat sel darah itu berwarna merah yang pada akhirnya hal tersebut akan membuat darah manusia berwarna merah. Fungsi hemoglobin (HB) ini merupakan sebuah media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen merupakan bagian terpenting dari proses metabolisme tubuh untuk dapat menghasilkan energi yang nantinya kita gunakan dalam beraktifitas sehari-hari. Hemoglobin ini juga dapat berfungsi membawa karbondioksida hasil metabolisme dari jaringan tubuh ke paru paru untuk selanjutnya dikeluarkan saat bernafas.

anemia, pengertian anemia, Blog Keperawatan

Anemia ini akan menyebabkan berkurangnya sejumlah hemoglobin atau sel darah merah tersebut. Karena kekurangan hemoglobin tersebut maka darah tidak maksimal dalam menjalankan salah satu fungsinya yaitu untuk mengangkut oksigen dalam jumlah yang diperlukan oleh tubuh kita. Hemoglobin (Hb) adalah suatu senyawa protein pembawa oksigen di dalam sel darah merah. Sebagai bahan bakunya diperlukan zat gizi dari makanan, termasuk berbagai vitamin (B2,B12) dan juga mineral. Maka tubuh kita akan bereaksi bila kita menderita anemia / kurang darah ini. Respon tubuh itulah yang kita kenal dengan tanda serta gejala.

Tanda dan gejala bila tubuh kita kekurangan pasokan oksigen yang disebabkan anemia ini bermacam-macam dan juga bervariasi.
Beberapa tanda gejala anemia bila menimpa kita adalah :
  1. Mudah letih / lelah bila kita melakukan aktivitas fisik atau mental.
  2. Sakit kepala / pusing.
  3. Tidak nafsu makan.
  4. Wajah yang terlihat pucat.
  5. Nafas terasa pendek.
  6. Bila keadaan serta kondisi penyakit anemia ini bertambah berat bisa menyebabkan penyakit jantung (serangan jantung / infark miokard akut).
Bagi yang awam dalam masalah kesehatan dengan kita merasakan hal tersebut di atas seyogyanya kita harus lebih berhati-hati serta waspada. Dan tentunya kita juga harus mengetahui apa yang menjadi penyebab anemia ini.
Ada beberapa penyebab anemia ini ini dan diantaranya yaitu :
  1. Perdarahan (Dikarenakan luka atau hal lainnya). Perdarahan yang banyak saat trauma baik itu yang terjadi di dalam maupun di luar tubuh akan menyebabkan anemia dalam waktu yang relatif singkat. Perdarahan dalam jumlah banyak biasanya terjadi pada maag yang kronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding lambung. Atau juga bisa karena pemberian obat jantung (pengencer darah) dan orang tersebut tidak tahan akan obat tersebut.
  2. Sel darah merah berkurang atau kurang gizi (zat besi,vit B2, B12).
  3. Penyakit gagal ginjal.
  4. Kanker.
  5. Kelainan Genetik. Penyakit karena kelainan genetik yang berkaitan dengan penyakit anemia ini contohnya adalah Thalasemia. Thalasemia adalah gangguan genetik yang dimamana produksi hemoglobin menjadi sangat rendah.
Demikian tadi sahabat mengenai anemia ini dan semoga bisa berguna serta memberikan manfaat bagi kita semua.

Thursday, May 24, 2012

Penyakit Demam Berdarah DHF

Penyakit Demam Berdarah DHF. Demam Berdarah adalah penyakit disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit demam berdarah DHF ini yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan. Ini terlihat pada banyak penderita demam berdarah yang kulitnya timbul bercak-bercak merah sebagai ciri khas penyakit demam berdarah ini.

Untuk saat ini pengobatan yang dilakukan untuk masalah virus pun belum diketahui secara pasti. Hanya memberikan pengobatan sesuai dengan gejala yang ditimbulkan. Misalnya demam diberikan antipiretik (penurun panas). Tetapi yang kita ketahui bahwa daya tahan tubuh yang kuat menjadi benteng terhadap segala serangan jenis virus. Dengan adanya daya tahan tubuh yang kuat bisa menjadi benteng pertama terhadap serangan virus.

penyakit demam berdarah, Blog Keperawatan

Gejala penyakit demam berdarah yang tampak akibat infeksi virus dengue biasanya muncul setelah masa inkubasi ( masa dimana virus berkembang hingga menimbulkan gejala ) dan terjadi dalam kurun waktu 3 - 8 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh. Penyakit demam berdarah ini atau yang disebut dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau disebut juga dengan penyakit demam berdarah dengue DBD ini.

Jika sistem pertahanan tubuh dapat mengatasi virus, maka gejala yang tampak bisa ringan dan juga bisa menyebabkan beberapa gejala. Dan diantara beberapa tanda dan gejala penyakit demam berdarah sebagai berikut :
  1. Demam tinggi yang timbul mendadak dengan suhu diatas 38 derajat C, selama 2 sampai dengan 7 hari.
  2. Demam tidak dapat teratasi meskipun telah mendapatkan pemberian obat penurun panas.
  3. Mual, muntah, sehingga menyebabkan nafsu makan minum berkurang.
  4. Pada pemeriksaan dengan melakukan uji test torniquet, akan terlihat adanya jentik (puspura) perdarahan.
  5. Pada tingkat lanjut ditemukan adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva), timbulnya mimisan (epitaksis), Buang air besar kotoran (faeces) berupa lendir bercampur darah (melena), dan lain-lainnya.
  6. Pada pemeriksaan laboratorium (darah) pada hari ke 3 - 7 akan didapatkan terjadinya penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (trombositopeni), terjadi peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (hemokonsentrasi).
  7. Nyeri sendi, sendi otot ( pegal-pegal ).
  8. Terjadi pembesaran hati (hepatomegali)
  9. Nyeri kepala, pusing.
  10. Rasa panas di belakang bola mata.
  11. Wajah kemerahan.
  12. Nyeri perut.
Demikian sahabat yang sedikit mengenai penyakit demam berdarah dan nantinya pada postingan berikutnya kita akan mencoba share mengenai bagaimana pencegahan dan pengobatan demam berdarah ini. Semoga bermanfaat sahabat semuanya.

Tuesday, May 22, 2012

Penyakit Malaria

Penyakit Malaria. Malaria adalah salah satu dari jenis penyakit menular dan disebabkan oleh parasit ( plasmodium ) yang ditularkan oleh nyamuk malaria ( Anopheles ) dan menginfeksi sel-sel darah merah. Demikian yang dimaksud dengan pengertian penyakit malaria tersebut.

Secara epidemiologi penyakit malaria dapat menyerang semua orang baik itu laki-laki maupun perempuan, dan juga pada semua golongan umur, dari bayi sampai orang dewasa. Penyakit malaria ini seringkali ditandai dengan siklus menggigil, demam, sakit, dan juga berkeringat. Catatan sejarah menunjukkan manusia yang terjangkit malaria sejak awal umat manusia. Kata Malaria disebut berasal dari bahasa italia yang berarti "udara buruk" pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1740 oleh H. Walpole saat menjelaskan penyakit malaria ini.

Malaria adalah suatu infeksi pada bagian dari sel darah yaitu infeksi pada sel darah merah. Penyakit malaria ini ditularkan oleh nyamuk yang membawa parasit yang menyebabkan malaria. Apabila nyamuk pembawa parasit ini menggigit anda, parasit dapat masuk ke dalam darah anda. Parasit tersebut bertelur, yang kemudian akan berkembang, melakukan replikasi sehingga menjadi banyak, dan parasit tersebut hidup dari sel darah anda sampai anda menjadi sakit. Jika tidak dilakukan pengobatan, malaria dapat sangat fatal sehingga berakibat pada kematian seseorang.

penyakit malaria, Blog Keperawatan

Plasmodium malaria terdiri dari beberapa macam dan macam dari plasmodium malaria ini adalah :
  1. Plasmodium Vivax
  2. Plasmodium Falsifarum
  3. Plasmodium Ovale
  4. Plasmodium Malariae
dari keempat jenis malaria tersebut yang paling banyak dan seringkali menimbulkan kematian adalah jenis plasmodium falsifarum.

Penyakit malaria seperti yang telah diterangkan di atas bahwa merupakan salah satu jenis penyakit menular. Cara penularan penyakit malaria ini adalah ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria ( anopheles ). Bila nyamuk anopheles ini mengigit orang yang sakit malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita. Dalam tubuh nyamuk, parasit tersebut berkembang biak. Sesudah 7-14 hari apabila nyamuk tersebut mengigit orang sehat, maka parasit tersebut akan di tularkan ke orang tersebut. Di dalam tubuh manusia parasit akan berkembang biak, menyerang sel-sel darah merah. Dalam waktu kurang lebih 12 hari, orang tersebut akan terserang penyakit malaria.

Kita dapat mengenali akan penyakit malaria ini dari gejala-gejala yang nampak dan dirasakan oleh penderitanya. Dari gejala yang ringan sampai dengan gejala yang berat.
Gejala ringan penyakit malaria ini ditandai dengan :
  1. Demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala.
  2. Terkadang di mulai dengan badan terasa lemah, mual / muntah tidak nafsu makan.
  3. Pucat. Hal ini disebabkan karena kurang darah.
  4. Pada anak, gejala spesifik daerah biasanya ditandai dengan diare.
Gejala berat penyakit malaria ini ditandai dengan :
  1. Kehilangan kesadaran.
  2. Demam tinggi.
  3. Kejang-kejang.
  4. Nafas cepat.
  5. Muntah terus.
  6. Kuning pada mata.
  7. Kencing berwarna teh tua.
  8. Pingsan sampai koma.
Ada beberapa cara dalam mencegah penyakit malaria ini. Berikut beberapa cara pencegahan penyakit malaria :
  • Menghindari gigitan nyamuk, tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, mengurangi berada di luar rumah pada malam hari.
  • Pengobatan pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria,dengan pemberian obat yaitu minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul / hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.
  • Membersihkan lingkungan, menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan.
  • Menebarkan pemakan jentik, menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair.
Demikian sahabat sedikit mengenai penyakit malaria ini dan semoga dengan mengenal penyakit malaria ini kita akan semakin waspada terhadap penyakit ini dan meningkatkan kesehatan dan juga menerapkan pola hidup sehat.

Monday, May 14, 2012

Penyakit Epilepsi

Penyakit Epilepsi.Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang dapat terjadi pada siapa pun walaupun dari garis keturunan tidak ada yang pernah mengalami epilepsi ini. Epilepsi tidak bisa menular ke orang lain karena hanya merupakan gangguan otak yang tidak dipicu oleh suatu kuman virus dan bakteri. Dengan pengobatan secara medis baik dokter maupun Rumah Sakit bisa membantu pasien epilepsi untuk mengurangi serangan epilepsi maupun menyembuhkan secara penuh epilepsi yang diderita oleh seseorang.
Epilepsi merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-ulang. Diagnosa ditegakkan bila seseorang mengalami paling tidak dua kali kejang tanpa penyebab (Jastremski, 1988).
Berikut beberapa pengertian epilepsi diantaranya yaitu : Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi. Penyakit epilepsi adalah merupakan gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik, atau gangguan fenomena sensori. Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksimal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik.

Jadi dari beberapa pengertian epilepsi di atas bisa diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan epilepsi adalah sindrom gangguan fungsi otak kronik yang ditandai oleh serangan kejang berulang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak. Pada tahun 2000, diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang. Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif diantara 1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang. Hasil penelitian Shackleton dkk (1999) menunjukkan bahwa angka insidensi kematian di kalangan penyandang epilepsi adalah 6,8 per 1000 orang. Sementara hasil penelitian Silanpaa dkk (1998) adalah sebesar 6,23 per 1000 penyandang. Epilepsi atau yang sering kita sebut ayan atau sawan tidak disebabkan atau dipicu oleh bakteri atau virus dan gejala epilepsi dapat diredam dengan bantuan orang-orang yang ada disekitar penderita.

penyakit epilepsi, Blog Keperawatan

Penyebab epilepsi secara pasti memang tidak diketahui, dalam dunia medis hal ini biasanya disebut dengan idiopatik. Namun beberapa hal yang bisa menyebabkan epilepsi atau faktor predisisposisi penyakit epilepsi adalah :
  1. Asfiksia neonatorum.
  2. Riwayat ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, penggunaaan obat-obatan, diabetes, atau hipertensi).
  3. Pascatrauma kelahiran.
  4. Riwayat bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsan yang digunakan sepanjang kehamilan.
  5. Riwayat demam tinggi.
  6. Adanya riwayat penyakit pada masa kanak-kanak (campak, penyakit gondongan, epilepsi bakteri).
  7. Riwayat intoksikasi obat-obatan atau alkohol.
  8. Riwayat gangguan metabolisme dan nutrisi atau gizi.
  9. Riwayat keturunan epilepsi.
Selanjutnya kita menginjak kepada patofisiologi dari epilepsi ini. Adanya predisposisi yang memungkinkan gangguan pada sistem listrik dari gangguan sistem saraf pusat pada suatu bagian otak akan menjadikan sel-sel tersebut memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan, secara berulang, dan tidak terkontrol (disritmia).
Aktivitas serangan epilepsi dapat terjadi setelah suatu gangguan pada otak dan sebagian ditentukan oleh derajat dan lokasi dari lesi. Lesi pada mesensefalon, talamus, dan korteks serebri kemungkinan besar bersifat epileptogenik sedangkan lesi pada serebelum dan batang otak biasanya tidak menimbulkan serangan epilepsi (Brunner, 2003)

Pada tingkat membran sel, neoron epileptik ditandai oleh fenomena biokimia tertentu. Beberapa diantaranya yaitu :
  • Ketidakstabilan membran sel saraf sehingga sel lebih mudah diaktifkan.
  • Neuron hipersensitif dengan ambang yang menurun sehingga mudah terangsang dan dapat terangsang secara berlebihan
  • Terjadi polarisasi yang abnormal ( polarisasi berlebihan, hiperpolarisasi, atau terhentinya repolarisasi).
  • Ketidakseimbangan ion yang mengubah lingkungan kimia dari neuron. Pada waktu serangan, keseimbangan elektrolit pada tingkat neuronal mengalami perubahan. Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan membran neuron mengalami depolarisasi.
Situasi ini akan menyebabkan kondisi yang tidak terkontrol, pelepasan abnormal terjadi dengan cepat, dan seseorang dikatakan menuju ke arah epilepsi. gerakan-gerakan fisik yang tak teratur disebut kejang. Akibat adanya distriknia muatan listrik pada bagian otak tertentu ini memberikan manifestasi pada serangan awal kejang sederhana sapai gerakan konvulsif memanjang dengan penurunan kesadaran. Keadaan ini dapat duhubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan, hilangnya tonus otot serta gerakan dan gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi, dan persepsi. Sehingga epilepsi bukan penyakit tetapi suatu gejala.

Masalah dasarnya diperkirakan dari gangguan listrik (disritmia) pada sel saraf pada salah satu bagian otak yang menyebabkan sel ini mengeluarkan muatan listrik abnormal, berulang, dan tidak terkontrol. karakteristik kejang epileptik adalah suatu manifestasi muatan neuron berlebihan ini.
Pola awal kejang menunjukkan daerah otak dimana kejang tersebut berasal. Juga penting untuk menunjukkan jika klien mengalami aura (suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik yang dapat menunjukkan asal kejang misalnya melihat kilatan sinar dapat menunjukkan kejang berasal dari lobus oksipiatal).

Ada dua golongan utama penyakit epilepsi yaitu serangan parsial atau fokal yang mulai pada suatu tempat tertentu di otak, biasanya di daerah korteks serebri, dan serangan umum yang agaknya mencakup seluruh korteks serebri dan diensefalon (Price, 1995)
Gejala yang khas yang kita temui dan dapatkan dari pasien ataupun penderita epilepsi ini adalah kejang.Kita bisa mengenali bahwa seseorang menderita kejang pertama kali yang dapat kita lihat dan observasi adalah kejang ini.

Jenis kejang yang ada dalam penyakit epilepsi ini terbagi menjadi :
1. Kejang umum, kejang grand mal ditandai oleh empat fase yaitu :
  1. Fase AURA. Seseorang mengalami berbagai sensasi sebelum kejadian kejang kronik. Sensasi ini merupakan tanda akan datangnya kejang. Sensasi mungkin merupakan penciuman, pusing, cahaya, rasa tertentu, baal atau getaran pada tangan.Itu bagian awal dari kejang epilepsi
  2. Fase TONIK. Ditandai oleh hilangnya kesadaran, jeritan (suara bernada tinggi disebabkan lewatnya udara melalui laring yang menutup disertai kontraksi maksimal otot-otot dada dan perut), tubuh kaku karena kontraksi tiba-tiba dari seluruh otot volunteer ( tangan fleksi, kaki ekstensi dan gigi rapat).
  3. Fase KLONIK. Ditandai oleh gerakan-gerakan kejang agitasi seluruh tubuh karena pergantian relaksasi dan kontraksi yang cepat dari seluruh otot volunteer. Pernapasan terhenti dan terjadi sianosis. Mungkin disertai mulut berbusa karena banyaknya saliva yang mungkin berwarna merah bila terjadi pendarahan karena tergigitnya lidah.
  4. Fase PEMULIHAN / POSTIKTAL. Ditandai oleh terhentinya gerakan-gerakan kejang. Individu tidak sadar. Kesadaran dan semua gerakan volunteer perlahan kembali. Kebingungan, agitasi dan peka rangsang mungkin muncul. Individu akan merasa lelah. Mungkin mengalami inkontinensia urine. Individu jua lupa akan kejang yang dialaminya.
2. Kejang fokal atau parsial
Kejang fokal sederhana ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu merupakan tempat dimana konduksi neural abnormal terjadi goncangan pada satu sisi wajah meluas kepada otot-otot tubuh pada sisi yangt sama. Gejala somatosensori bisa terjadi misalnya kesemutan, rasa logam, halusinasi visual; gejala otonom juga dapat terjadi seperti mual, berkeringat, individu tidak mengalami kehilangan kesadaran.
Kejang fokal kompleks ditandai oleh adanya kehilangan kesadaran, disertai tingkah laku kacau seperti lip smaking, menarik-narik pakaian, atau menunjukkan jari. Kemudian kacau mental dan peka rangsang terjadi kemudian. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum. Dengan kejang pertama, seseorang dirawat dan mengalami pemeriksaan diagnostic lengkap untuk menentukan penyebab kejang.

Demikian sahabat mengenai epilepsi dan juga pengertian epilepsi. Dan semoga bisa memberikan manfaat sahabat. Dan untuk rekan-rekan sejawat perawat mungkin lain kali akan diposting mengenai askep epilepsi yang ditinjau dari segi keperawatannya ini. Untuk yang bertanya mengenai pengobatan dan juga pencegahan dari penyakir epilepsi ini bisa membaca di sini sahabat pengobatan dan pencegahan epilepsi. Dan semoga artikel ini bisa memberikan manfaat

Monday, April 9, 2012

Mengenal Diabetes Melitus / DM

Mengenal Diabetes Melitus / DM.Diabetes Melitus adalah sebuah keadaan dimana terjadi hiperglikemia kronik disertai dengan berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang hal ini menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada organ tubuh seperti mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaaan dengan mikroskrop elektron. Secara etiologi, diabetes melitus terbagi menjadi dua kategori, yaitu Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DTMI) yang disebabkan oleh destruksi sel Beta pada pulau Langerhans akibat proses autoimun, serta Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulun (DMTTI) yang disebabkan karena kegagalan relatif sel Beta dan resistensi insulin.

Resistensi insulin pada Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel Beta yang berada di pulau Langerhans tidak mampu mengimbangi resistensi sepenuhnya, sehingga terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Artinya pada Diabetes Melitus tipe ini, sel Beta pankreas mengalami desentitasi terhadap glukosa.

mengenal diabtes melitus,mengenal DM,DM,Blog Keperawatan

Diagnosa Diabetes Melitus awalnya dipikirkan dengan adanya gejala khas yang terdapat pada pasien yang menderita DM ini yang berupa polifagia, poluria, polidipsia, lemas, dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin dikeluhkan penderita Diabetes Melitus adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.

Diagnosa Diabetes Melitus terhadap gejala khas dapat diperkuat dengan melakukan pemeriksaan glukosa sewaktu > 200 mg/dl atau glukosa darah puasa >= 126mg/dl. Bila hasil pemeriksaan darah meragukan, pemeriksaan TTGO diperlukan untuk memastikan diagnosa diabetes melitus.

Untuk diagnosa Diabetes Melitus dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosa diabetes melitus pada hari yang lain atau TTGO yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan yang menurun cepat, dan lain-lain.

Dalam memperkuat diagnosa Diabetes melitus perlu dilakukan pemeriksaan penyaring dengan melakukannya pada kelompok dengan resiko tinggi untuk diabetes melitus.
Berikut beberapa kelompok resiko tinggi tersebut adalah :
  • Kelompok usia dewasa tua 40 tahun.
  • Obesitas, tekanan darah tinggi.
  • Riwayat keluarga diabetes melitus.
  • Kehamilan dengan berat badan lahir bayi 4000 gr.
  • Riwayat Diabetes Melitus pada kehamilan.
  • Dislipidemia.
Pemeriksaan penyaring untuk diagnosa diabetes melitus dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk kelompok diabetes melitus resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negatif, perlu pemeriksaan penyaring ulangan tiap tahun. Bagi pasien berusia 45 tahun tanpa faktor risiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 bulan.

Sumber : Kapita Kedokteran FE UI Edisi Ketiga