Showing posts with label AsKep. Show all posts
Showing posts with label AsKep. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

Askep Asma Bronkial

Askep Asma Bronkiale. Penyakit asma bronkial adalah salah satu penyakit paru yang berkaitan erat dengan saluran nafas serta pernafasan. Oleh sebab itu bila penyakit paru asma ini kambuh akan menimbulkan gejala yang khas sekali yaitu bunyi nafas mengi, bengek, batuk dan juga sesak nafas. Bunyi mengi pada asma terdengar ketika seorang penderita menghembuskan nafasnya. Serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap juga akan semakin memburuk jika tidak segera dilakukan tindakan pengobatan dan juga perawatan.

Sepert biasa dalam hal melakukan asuhan keperawatan yang pertama kali dilakukan oleh seorang perawat adalah melakukan pengkajian. Demikian pula bila kita melakukan pengkajian askep asma bronkial ini.

Pada tahap pengkajian askep asma bronkiale menetapkan penatalaksanaan dasar untuk mendapatkan informasi tentang status terakhir pasien sehingga semua penyimpangan yang terjadi dapat untuk segera diketahui
Pengkajian askep asma bronkiale ini juga mencakup dua hal yaitu pengkajian primer dan juga pengkajian sekunder.

askep asma bronkial, Blog Keperawatan

Pengkajian Primer pada askep asma bronkial adalah :
  1. Airway. Yang kita dapatkan pada pengkajian airway ini diantaranya yaitu : batuk kering/tidak produktif, wheezing yang nyaring, penggunaan otot –otot aksesoris pernapasan ( retraksi otot interkosta).
  2. Breathing. Perpanjangan ekspirasi dan perpendekan periode inspirasi, dypsnea, takypnea, taktil fremitus menurun pada palpasi, suara tambahan ronkhi, hiperresonan pada perkusi.
  3. Circulation. Yang kita dapatkan pada pengkajian sirkulasi ini adalah adanya hipotensi, diaforesis, sianosis, gelisah, fatique, perubahan tingkat kesadaran, pulsus paradoxus > 10 mm.
Pengkajian Sekunder pada askep asma bronkial adalah :
  1. Riwayat penyakit sekarang. Yang kita anamnese adalah mengenai lama menderita asma, hal yang menimbulkan serangan, obat yang pakai tiap hari dan saat serangan.
  2. Riwayat penyakit sebelumnya. Yang kita ananmese adalah mengenai riwayat alergi, batuk pilek, menderita penyakit infeksi saluran nafas bagian atas
  3. Riwayat perawatan keluarga. Yang kita anamnese adalah adakah riwayat penyakit asma pada keluarga.
  4. Riwayat sosial ekonomi. Yang kita anamnese adalah lingkungan tempat tinggal dan bekerja, jenis pekerjaan, jenis makanan yang berhubungan dengan alergen, hewan piaraan yang dimiliki, dan tingkat stressor.
Melangkah pada tahap selanjutnya yaitu diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan pada askep asma bronkiale ini yaitu :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkospasme dan sekresi kental berlebihan.
Tujuan Yang Diharapkan : Pasien mempertahankan jalan nafas paten.
Kriteria Hasil :
  1. Bunyi nafas bersih
  2. Kecepatan dan kedalaman pernafasan normal
  3. Tak ada dispnea
Intervensi Keperawatan :
  • Kaji sputum terhadap warna, kekentalan dan jumlah
  • Ausultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas tambahan misalnya: mengi, krekels, dan ronchi
  • Kaji kualitas dan kecepatan pernafasan
  • Kaji frekuensi dispnea: gelisah, ansietas distress pernapasan, penggunan otot bantu
  • Beri klien posisi pada ketinggian yang nyaman dan mengoptimalkan pernafasan : tinggikan kepala tempat tidur 60 – 90 derajat, sokong punggung dengan bantal
  • Berikan oksigen aliran rendah dengan kateter sesuai pesanan
  • Pertahankan / bantu batuk efektif dan bantu untuk fisioterapi dada
  • Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari dan berikan air hangat
  • Berikan obat : epinefrin, aminofilin, antihistamin, ekspektoran, kortikosteroid adrenal
  • Nebulisasi isoproterenol atau kromolin
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru selama serangan akut.
Tujuan yang Diharapkan : Pasien mempertahankan pola nafas efektif.
Kriteria Hasil :
  1. Sesak berkurang atau hilang, RR 18-24x/menit
  2. Frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan
  3. Tidak ada retraksi otot pernapasan
Intervensi Keperawatan :
  • Kaji tanda dan gejala ketidakefektifan pernapasan : dispnea, penggunaan otot-otot pernapasan
  • Pantau tanda- tanda vital dan gas- gas darah arteri
  • Baringkan pasien dalam posisi fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada
  • Berikan terapi oksigen sesuai pesanan
  • Pertahankan patensi jalan nafas
  • Berikan obat sesuai pesanan
3. Cemas berhubungan dengan krisis situasi, kesulitan bernafas, takut serangan ulang.
Tujuan Yang Diharapkan : Rasa cemas klien menjadi berkurang sampai hilang
Kriteria Hasil :
  1. Klien tampak rileks
  2. Mengungkapkan perasaan cemas berkurang
  3. Tanda – tanda vital normal
Intervensi Keperawatan :
  • Kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat)
  • Ukur tanda-tanda vital
  • Berikan dukungan emosional
  • Implementasikan teknik relaksasi : petunjuk imajinasi, relaksasi otot
  • Jelaskan informasi yang diperlukan klien tentang penyakitnya, perawatan dan pengobatannya
  • Ajarkan klien tehnik relaksasi (memejamkan mata, menarik nafas panjang)
  • Menganjurkan klien untuk istirahat
Demikian tadi sahabat sedikit mengenai askep asma bronkial dan semoga yang sedikit mengenai asuhan keperawatan asma bronkial ini bisa berguna serta bermanfaat.

Saturday, May 26, 2012

Askep Demam Berdarah DHF

Askep Demam Berdarah DHF.Demam berdarah adalah penyakit disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit demam berdarah DHF ini yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan. Ini terlihat pada banyak penderita demam berdarah yang kulitnya timbul bercak-bercak merah sebagai ciri khas penyakit demam berdarah ini. Itu adalah pengertian demam berdarah yang ditinjau dari segi medisnya.

Nah seperti biasanya pada Blog Keperawatan kali ini akan sedikit share mengenai demam berdarah ini ditinjau dari segi keperawatannya yaitu tentang askep demam berdarah dan semoga pula askep demam berdarah ini akan bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Langsung saja sahabat menuju kepada topik utama dalam pembahasan askep demam berdarah ini. Dalam melaksanakan sebuah asuhan keperawatan tentunya dimulai dari sebuah pengkajian. Demikian pula dengan askep demam berdarah kita kali ini. Data yang kita ambil dalam sebuah pengkajian terdiri dari dua yaitu data subyektif yaitu data yang didapatkan dari keluhan pasien ataupun dari keluarga pasien. Dan satu lagi yaitu data obyektif yaitu data yang kita peroleh dari hasil pengamatan seorang perawat yang sedang melakukan pengkajian.

askep demam berdarah, askep DHF, Blog Keperawatan

Data Subyektif yang biasanya kita dapatkan pada saat melakukan pengkajian pada askep DHF ini adalah :
  • Demam / panas.
  • Lemah / kelemahan.
  • Mual, anorexia, sakit pada saat menelan.
  • Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
  • Nyeri pada otot dan sendi.
  • Sakit kepala.
  • Konstipasi (sembelit).
Data Obyektif yang biasanya kita dapatkan pada saat melakukan pengkajian askep demam berdarah ini adalah :
  • Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
  • Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
  • Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis, ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.
  • Hiperemia pada tenggorokan.
  • Nyeri tekan pada epigastrik.
  • Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
Sedangkan pada pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah biasanya akan didapatkan hasil pemeriksaan seperti halnya :
  1. Trombositopenia.
  2. Hemoglobin meningkat > 20 %.
  3. Ig G dengue didapatkan dengan hasil positif.
  4. Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
  5. Pada pemeriksaan kimia darah akan didapatkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia.
  6. Waktu perdarahan memanjang.
  7. SGOT/SGPT mungkin meningkat.
  8. Asidosis metabolik.
  9. Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
  10. Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.
Setelah kita melakukan pengkajian dan didapatkan data-data seperti diatas, maka langkah selanjutnya dalam pembuatan asuhan keperawatan adalah membuat diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang timbul dalam askep DHF ini diantaranya yaitu :
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
Tujuan Yang diharapkan :
  • Suhu tubuh normal (36 – 370C).
  • Pasien bebas dari demam.
Intervensi Keperawatan :
  1. Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam.
  2. Kaji saat timbulnya demam.
  3. Berikan kompres hangat.
  4. Anjurkan pasien untuk banyak minum sekitar 2,5 liter/24 jam.
  5. Kolaborasi medis dalam memberikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.

2. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
Tujuan yang diharapkan :
  • Nyeri berkurang atau hilang.
  • Rasa nyaman pasien terpenuhi.
Intervensi Keperawatan :
  1. Kaji tingkat dan skala nyeri yang dialami pasien.
  2. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.
  3. Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang dan theraupetik.
  4. Kolaborasi medis pemberian obat-obatan analgetik.

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
Tujuan yang diharapkan :
  • Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
  • Porsi makan pasien bisa dihabiskan.
Intervensi Keperawatan :
  1. Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
  2. Berikan makanan dalam porsi kecil dan dalam frekuensi yang sering.
  3. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti halnya bubur.
  4. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
  5. Kolaborasi medis dalam pemberian obat-obatan antiemetik.

4. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
Tujuan yang diharapkan : Volume cairan terpenuhi.
Intervensi Keperawatan :
  1. Kaji tanda-tanda vital dan juga keadaan umum pasien.
  2. Anjurkan pasien untuk banyak minum.
  3. Catat intake dan output.
  4. Observasi tanda-tanda syock.
  5. Kolaborasi medis dalam pemberian cairan melalui Intra Vena (infus).

5. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Tujuan yang diharapkan :
  • Kebutuhan aktifitas sehari-hari pasien terpenuhi.
  • Pasien mampu mandiri setelah bebas demam.
Intervensi Keperawatan :
  1. Kaji keluhan pasien.
  2. Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien.
  3. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien.
  4. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien.
Demikian tadi sahabat sedikit mengenai askep demam berdarah dan semoga bisa memberikan manfaatnya. Dan tentunya hal pencegahan demam berdarah akan lebih baik daripada mengobatinya.

Wednesday, May 23, 2012

Askep Malaria

Askep Malaria. Malaria adalah suatu infeksi pada bagian dari sel darah yaitu infeksi pada sel darah merah. Penyakit malaria ini ditularkan oleh nyamuk yang membawa parasit yang menyebabkan malaria. Penyakit Malaria adalah salah satu dari jenis penyakit menular dan disebabkan oleh parasit ( plasmodium ) yang ditularkan oleh nyamuk malaria ( Anopheles ) dan menginfeksi sel-sel darah merah. Itu adalah pengertian malaria menurut tinjauan dari sisi medis. Kali ini seperti biasanya blog Keperawatan akan mencoba share mengenai askep malaria ini yang tentunya ditinjau dari segi bidang keperawatan dan semoga askep malaria ini dapat memberikan manfaat.

askep malaria, Blog Keperawatan

Langsung saja sahabat kedalam topik pembahasan ini yaitu askep malaria.Tentunya hal pertama yang diulas dalam sebuah asuhan keperawatan adalah pengkajian. Berikut adalah beberapa pengkajian yang dilakukan dalam melaksanakan askep malaria ini.
1. Aktifitas / Istirahat.
Gejala yang dikaji : Kelemahan, keletihan, malaise umum.
Tanda yang didapatkan : Kelemahan otot, takikardia (nadi <100X/menit), penurunan kekuatan.
 2. Sirkulasi. Tanda yang didapatkan dalam sistem sirkulasi ini diantaranya yaitu tekanan darah bisa normal atau turun, denyut perifer kuat dan cepat(pada fase demam), kulit terasa hangat, diuresis (diaphoresis ) karena vasodilatasi pembuluh darah perifer, hipovolemia, penurunan aliran darah, pucat dan juga lembab (karena vasokontriksi).
3. Eliminasi.
Gejala yang dikaji : Penurunan haluaran urine dan juga bisa terjadi diare atau konstipasi.
yang didapatkan : Adanya distensi abdomen.
4. Makanan serta cairan.
Gejala yang dikaji : Mual, muntah, anoreksia.
Tanda yang didapatkan : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan penurunan masa otot, penurunan haluaran urine, konsentrasi urine.
5. Neuro sensori.
yang dikaji : Pusing, sakit kepala, pingsan.
Tanda yang didapatkan : Cemas, gelisah, kacau mental, disorientasi, ketakutan. Bisa terjadi delirium / koma.
6. Pernafasan.
Gejala yang dikaji : Takipnoe dengan penurunan kedalaman pernafasan.
Tanda yang didapatkan : Nafas pendek disaat intirahat dan juga aktifitas.

Selanjutnya setelah melakukan pengkajian pada askep malaria di atas, langkah selanjutnya adalah dengan menentukan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul dapat diuraikan seperti dibawah ini (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 1999).

Diagnosa keperawatan asuhan keperawatan malaria ini diantaranya yaitu :
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak adekuat, anorexia, mual / muntah.
Intervensi Keperawatan :
  • Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. Observasi dan catat masukan makanan klien. Rasional tindakan ini yaitu mengawasi masukan kalori atau kualitas kekeurangan konsumsi makanan.
  • Berikan makan sedikit dan makanan tambahan kecil yang tepat. Rasional tindakan ini yaitu dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode anoreksia.
  • Pertahankan jadwal penimbangan berat badan secara teratur. Rasional tindakan ini yaitu mengawasi penurunan berat badan atau efektifitas intervensi pemberian nutrisi.
  • Diskusikan yang disukai klien dan masukan dalam diet murni. Rasional tindakan ini ysitu dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi / kontrol diet.
  • Observasi dan catat kejadian mual / muntah, dan gejala lain yang berhubungan. Rasional tindakan ini yaitu gejala Gastro Intestinal dapat menunjukan efek anemia (hipoksia) pada organ.
  • Kolaborasi untuk melakukan rujukan ke ahli gizi. Rasional tindakan ini yaitu perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi klien.

2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan sistem tubuh (pertahanan utama tidak adekuat), prosedur invasif.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau terhadap kecenderungan peningkatan suhu tubuh. Rasional tindakan ini yaitu bahwa demam disebabkan oleh efek endoktoksin pada hipotalamus dan hipotermia adalah tanda-tanda penting yang merefleksikan perkembangan status syok / penurunan perfusi jaringan.
  • Amati adanya menggigil dan diaforesis. Rasional tindakan ini yaitu menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu yang terjadi pada infeksi umum.
  • Memantau tanda - tanda penyimpangan kondisi / kegagalan untuk memperbaiki selama masa terapi. Rasional tindakan ini adalah dapat menunjukkan ketidak tepatan terapi antibiotik atau pertumbuhan dari organisme.
  • Berikan obat anti infeksi sesuai petunjuk. Rasional tindakan ini yaitu dapat membasmi / memberikan imunitas sementara untuk infeksi umum.
  • Dapatkan sample darah. Rasional tindakan ini yaitu untuk identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi penyakit malaria.

3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme dehirasi efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil. Rasional tindakan ini yaitu hipertermi menunjukan proses penyakit infeksi akut. Pola demam menunjukkan diagnosis penyakit malaria.
  • Pantau suhu lingkungan. Rasional tindakan ini yaitu suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu yang mendekati normal.
  • Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alkohol. Rasional tndakan ini yaitu dapat membantu mengurangi demam, penggunaan es / alkohol mungkin menyebabkan kedinginan. Selain itu alkohol dapat juga mennyebabkan mengeringkan kulit.
  • Berikan obat antipiretik. Rasional tindakan ini yaitu digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
  • Berikan selimut pendingin. Rasional tindakan ini yaitu selimut ini digunakan untuk mengurangi demam dengan hipertermi.

4. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh.
Intervensi Keperawatan :
  • Pertahankan tirah baring bantu dengan aktivitas perawatan. Rasional tindakan ini adalah menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi oksigen, memaksimalkan efektifitas dari perfusi jaringan.
  • Pantau terhadap kecenderungan tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi dan perubahan pada tekanan nadi. Rasional tindakan ini adalah bahwa hipotensi akan berkembang bersamaan dengan kuman yang menyerang darah.
  • Perhatikan kualitas, kekuatan dari denyut perifer. Rasional tindakan ini adalah bahwa pada ada awal nadi cepat kuat karena peningkatan curah jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena hipotensi yang terus menerus, penurunan curah jantung dan vaso kontriksi perifer.
  • Kaji frukuensi pernafasan kedalaman dan kualitas. Perhatikan dispnea berat. Rasional tindakan ini adalah peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek-efek langsung dari kuman pada pusat pernafasan. Pernafasan menjadi dangkal bila terjadi insufisiensi pernafasan, menimbulkan resiko kegagalan pernafasan akut.
  • Berikan cairan parenteral. Rasional tindakan ini adalah untuk mempertahankan perfusi jaringan, sejumlah besar cairan mungkin dibutuhkan untuk mendukung volume sirkulasi.

5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan / mengingat kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
Intervensi Keperawatan :
  • Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan. Rasional tindakan ini adalah bahwa memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
  • Berikan informasi mengenai pemberian obat- obatan, interaksi obat, efek samping dan ketaatan terhadap program. Rasional tindakan ini adalah meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan dan mengurangi kambuhnya komplikasi.
  • Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nutrisional yang tepat dan seimbang. Rasional tindakan ini adalah bahwa perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum.
  • Dorong periode istirahat dan aktivitas yang terjadwal. Rasional tindakan ini adalah bahwa mencegah pemenatan, penghematan energi dan meningkatkan penyembuhan.
  • Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan. Rasional tindakan ini adalah membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada.
  • Identifikasi tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medis. Rasional tindakan ini adalah pengenalan dini dari perkembangan / kambuhnya infeksi.
  • Tekankan pentingnya pengobatan antibiotik sesuai kebutuhan. Rasional tindakan ini adalah penggunaan terhadap pencegahan terhadap infeksi.
Demikian tadi sahabat mengenai asuhan keperawatan malaria ini dan semoga bisa memberikan manfaat.

Thursday, May 3, 2012

Askep Hipertensi

Askep Hipertensi.Hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg.Itu adalah awal dalam postingan mengenai hipertensi ditinjau dari segi medis, nah kali ini Blog Keperawatan akan kembali berbagi mengenai askep hipertensi yang ditinjau dari segi keperawatannya, khususnya dalam asuhan keperawatan.Dan semoga bisa memberikan manfaat askep pasien hipertensi ini.

Pengkajian keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan askep hipertensi adalah :
  1. Aktifitas dan istirahat yang meliputi lemah, letih, heart rate meningkat, perubahan iraman jantung, takipnoe.
  2. Sirkulasi yang meliputi adanya riwayat akan penyakit hipertensi, penyakit serebrovaskuler, penyakit jantung koroner.
  3. Integritas Ego yang meliputi riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, faktor stress multipel.
  4. Eliminasi yang meliputi dari gangguan ginjal pada saat ini atau riwayat dahulunya.
  5. Makanan dan cairan yang meliputi makanan yang disukai yang yang seringkali makanan tinggi garam, lemak dan dan juga kolesterol.
  6. Neurosensori yang meliputi akan keluhan pusing (pening), sakit kepala, gangguan penglihatan, episode epistaksis.
  7. Nyeri / ketidaknyamanan yang meliputi : angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri abdomen
  8. Pernapasan yang meliputi dispnea yang berkaitan dengan ada tidaknya aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok.
  9. Keamanan yang melipti akan gangguan koordinasi, cara jalan.
  10. Pembelajaran / Penyuluhan yang meliputi akan faktor resiko keluarga yaitu adanya hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes melitus ,penyakit ginjal

askep hipertensi, Blog Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada askep hipertensi yaitu :
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikel.
Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, dan tidak terjadi iskemia miokard.
Kriteria Hasil yang diharapkan :
  • Mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima.
  • Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil.
  • Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah.
Intervensi Keperawatan yang dilakukan :
  1. Pantau tekanan darah dan ukur pada kedua tangan, menggunakan manset dan tehnik yang tepat dalam hal mengukur tekanan darah.
  2. Auskultasi bunyi napas dan tonus jantung. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler.
  3. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
  4. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur atau di kursi.
  5. Bantu dalam melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
  6. Berikan lingkungan tenang, nyaman, dan theraupetik serta kurangi aktivitas. Catat edema umum.
  7. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
  8. Kolaborasi medis dalam hal pemberian obat-obatan sesuai indikasi.

2. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat Kriteria Hasil yang diharapkan : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi keperawatan :
  1. Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan.
  2. Batasi pasien dalam aktivitas.
  3. Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.
  4. Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.
  5. Kolaborasi medis dalam memberi obat analgetik dan sedasi.
3. Perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi. Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak mengalami gangguan.
Kriteria Hasil yang diharapkan :
  • Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti halnya ditunjukkan dengan : tekanan darah dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
  • Tanda-tanda vital stabil.
  • Haluaran urin 30 ml / menit.
Intervensi Keperawatan :
  1. Pertahankan tirah baring, tinggikan posisi kepala di tempat tidur pasien.
  2. Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan, tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika memang tersedia.
  3. Ukur masukan dan pengeluaran cairan.
  4. Amati adanya hipotensi mendadak.
  5. Ambulasi sesuai kemampuan dan juga hindari kelelahan pada pasien.
  6. Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai advis medis.
  7. Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai advis medis.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan perawatan diri. Tujuan : pasien terpenuhi dalam hal informasi mengenai penyakit hipertensi. Hasil Yang Diharapkan :
  • Pasien dapat mengungkapkan pengetahuan dan ketrampilan penatalaksanaan perawatan dini hipertensi.
  • Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai advis medis.
Intervensi Keperawatan :
  1. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari prosedur dan pengobatan hipertensi.
  2. Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang dan theraupetik, dan manajemen stressor.
  3. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil.
  4. Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai pesanan.
  5. Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dalam beraktifitas.
  6. Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dalam hal buang air besar.
  7. Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein, teh serta alkohol.
  8. Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah.
  9. Diskusikan tentang obat-obatan : nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping atau efek toksik.
  10. Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter.
Demikian tadi sahabat mengenai askep hipertensi ini dan semoga hal ini bisa memberikan manfaat terutama dalam hal keperawatan. Untuk itulah sahabat alangkah baiknya bila kita bisa melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengobatan hipertensi sedari awal agar kesehatan senantiasa bersama kita.

Sunday, April 29, 2012

Askep Ventilasi Mekanik

Askep Ventilasi Mekanik.Ventilasi mekanik adalah suatu alat yang dipergunakan dalam hal membantu sebagian ataupun seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi seorang pasien.Dan bagi rekan-rekan sejawat khususnya yang berdinas di Intensive Care sudah menjadi pekerjaan sehari-hari dalam melaksanakan askep ventilasi mekanik ini. Semoga nantinya yang akan dishare dalam Blog Keperawatan ini mengenai askep ventilasi mekanik ini akan bisa memberikan manfaat.

Sahabat semuanya agar bisa lebih memudahkan dalam hal mempelajari askep ventilasi mekanik ini bisa terlebih dahulu membaca tentang apa itu ventilasi mekanik dan juga mengenai macam dari ventilasi mekanik.Langsung saja sahabat ke dalam asuhan keperawatan atau askep ventilator ini.

askep ventilator, Blog Keperawatan

Diagnosa Keperawatan yang biasanya muncul pada askep ventilator ini adalah :
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi perfusi ditandai dengan perubahan dalam frekuensi dan kedalaman pernapasan, sianosis, penurunan PO2, saturasi O2, dan peningkatan PCO2, peningkatan kerja pernapasan dengan menggunakan otot aksesori.
- Kriteria Hasil : Kemudahan dalam bernafas, terbebas dari kegelisahan dan dyspneu, BGA dan saturasi oksigen dalam rentang normal.
- Intervensi Keperawatan :
a. Monitoring tanda-tanda vital yang terdiri dari :
  • Monitoring tekanan darah, nadi , suhu tubuh, dan status pernafasan.
  • Monitoring irama dan kecepatan denyut jantung.
  • Monitoring adanya kemungkinan sianosis.
  • Monitoring warna, temperature, dan kelembaban kulit.
  • Monitoring dan laporkan jika ada hipotermi dan hipertermia.
b. Monitoring respirasi yang terdiri dari :
  • Monitoring irama, kecepatan, kedalaman, dan usaha pernafasan
  • Auskultasi bunyi paru
  • Monitoring tanda-tanda kelelahan, cemas.
  • Monitoring kemampuan batuk efektif pasien.
  • Monitoring sekresi pernapasan pasien.
  • Monitoring kesiapan ventilator mekanik, catat peningkatan tekanan inspirasi, dan penurunan tidal volume.
  • Lakukan resusitasi jika diperlukan
c. Therapi oksigen yang terdiri dari :
  • Pertahankan kepatenan jalan nafas.
  • Monitor aliran oksigen.
  • Lakukan pengecekan secara periodik peralatan oksigen untuk memastikan oksigen sesuai dengan yang dibutuhkan.
  • Berikan suplemen oksigen sesuai order.
  • Monitor efektifitas pemberian oksigen dengan menggunakan BGA ataupun alat pulse oxymetry.
  • Monitor tanda – tanda keracunan oksigen.
  • Monitor kecemasa pasien akibat kebutuhan oksigen.
d. Manajemen asam basa.
  • Pertahankan kepatenan akses intravena (Infus).
  • Pertahankan kepatenan jalan nafas.
  • Monitor kemungkinan kehilangan asam (karena muntah, diare).
  • Monitor status hemodinamik, meliputi nilai CVP, MAP, PAP, dan PCWP jika ada.
  • Monitor BGA, kadar elektrolit urin.
  • Monitor gejala gagal nafas.
  • Monitor tanda – tanda memburuknya ketidakseimbangan elektrolit.
  • Berikan oksigen secara adekuat.

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernafasan ditandai dengan perubahan dakam frekuensi dan kedalaman pernafasan, penurunan kapasitas vital / volume paru total, takipnea / bradipnea atau henti nafas bila dilepaskan dari ventilator, penurunan PO2 dan SaO2, peningkatan PCO2, sianosis.
- Kriteria Hasil : Mempertahankan pola pernafasan efektif melalui vetilator dengan tidak ada retraksi / penggunaan otot aksesori, sianosis, atau tanda lain dari hipoksia, saturasi oksigen dan hasil BGA dalam rentang nilai normal, menunjukkan perilaku untuk mempertahankan fungsi pernafasan, berpartisipasi dalam upaya penyapihan ventilator dalam kemampuan pasien.
- Intervensi Keperawatan :
  • Observasi pola nafas. Catat frekuensi pernafasan, jarak antara pernafasan spontan dan nafas ventilator.
  • Auskultasi dada secara periodik, catat ada / tidak dan kualitas bunyi nafas, bunyi nafas tambahan, juga kesimetrisan gerakan dada.
  • Periksa selang terhadap obstruksi, contoh terlipat atau akumulasi air. Alirkan selang sesuai indikasi, hindari aliran ke pasien atau kembali ke wadah.
  • Jumlahkan pernafasan pasien 1 menit penuh dan bandingkan untuk menyusun frekuensi yang diinginkan / ventilator.
  • Bantu pasien dalam kontrol pernafasan bila penyapihan diupayakan / dukungan ventilator dihentikan selama prosedur / aktivitas.

3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan batuk ditandai dengan perubahan frekuensi atau kedalaman pernafasan, nunyi nafas tak normal, gelisah / ansietas, sianosis.
- Kriteria Hasil : Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas jelas dan aspirasi dicegah
- Intervensi Keperawatan :
  • Kaji kepatenan jalan nafas.
  • Anjurkan pasien untuk melakukan teknik batuk selama penghisapan lendir.
  • Evaluasi gerakan dada dan auskultasi untuk bunyi nafas bilateral.
  • Ubah posisi tubuh dan berikan cairan sesuai dengan kemampuan pasien.
  • Kolaborasi dengan fisioterapis dalam melakukan postural drainase.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian bronkodilator IV dan aerosol sesuai indikasi.

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai beberapa askep ventilasi mekanik dan semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semuanya.

Tuesday, April 24, 2012

Askep Diabetes Melitus / DM

Askep Diabetes Melitus / DM.Penyakit Diabetes Melitus adalah merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada diri seseorang yang disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif.Diabetes melitus ini diagnosanya didirikan awalnya dipikirkan dengan adanya gejala khas yang terdapat pada pasien yang menderita DM ini yang berupa polifagia (banyak makan), poluria (banyak kencing), polidipsia, lemas, dan berat badan turun. Gejala lain yang seringkali dikeluhkan penderita Diabetes Melitus adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.Maka hari ini blog Keperawatan akan mencoba sharing mengenai askep DM / diabetes melitus ini.Semoga artikel mengenai askep DM / diabetes melitus ini memberikan manfaat.

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan DM / diabetes melitus ada beberapa pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan laboratorium diantaranya yaitu :
  • Glukosa darah sewaktu
  • Kadar glukosa darah puasa
  • Tes toleransi glukosa
Dalam kriteria yang diterapkan oleh WHO untuk penyakit diabetes melitus ini dalam hasil laboratorium hasil pemeriksaannya menunjukkan :
  • Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
  • Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
  • Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

Tujuan yang utama dalam memberikan terapi pada askep diabetes melitus / DM ini yaitu mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah yang dimaksudkan untuk bisa mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.Beberapa komponen penting dalam penatalaksanaan askep DM / diabetes melitus ini adalah dengan :
  1. Diet DM.
  2. Latihan.
  3. Pemantauan glukosa darah
  4. Terapi (jika diperlukan)
  5. Pendidikan kesehatan.
Pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan askep DM / diabetes melitus yaitu :
  1. Riwayat Kesehatan Keluarga : Yang dikaji adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
  2. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya : Yang dikaji berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
  3. Aktivitas/ Istirahat : Yang dikaji gejala seperti lemah,letih, mengalami kesulitan bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
  4. Sirkulasi : Yang dikaji adakah riwayat hipertensi, AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah.
  5. Integritas Ego : Stress, ansietas.
  6. Eliminasi : Perubahan dalam pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
  7. Makanan / Cairan : Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
  8. Neurosensori : Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
  9. Nyeri / Kenyamanan : Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat).
  10. Pernapasan : Batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak).
  11. Keamanan : Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

Diagnosa Keperawatan serta masalah keperawatan yang ditegakkan pada askep DM / diabetes melitus ini diantaranya yaitu :
  1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
  2. Kekurangan volume cairan
  3. Gangguan integritas kulit
  4. Resiko terjadi injuri
Intervensi askep diabetes melitus / DM :
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
  • Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
  • Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi :
  1. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
  2. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
  3. Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
  4. Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
  5. Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
  6. Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
  7. Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
  8. Kolaborasi Medis dengan pemberian pengobatan insulin.
  9. Kolaborasi dengan ahli diet.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan : Kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil : Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi :
  1. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik.
  2. Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul.
  3. Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas.
  4. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
  5. Pantau masukan dan pengeluaran.
  6. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung.
  7. Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
  8. Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur.
  9. Kolaborasi Medis : Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K).

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.
Kriteria Hasil : Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
  1. Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
  2. Kaji tanda vital.
  3. Kaji adanya nyeri.
  4. Lakukan perawatan luka
  5. Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
  6. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

4. Resiko terjadi injuri berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.
Tujuan : Pasien tidak mengalami injuri.
Kriteria Hasil : Pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injuri.
Intervensi :
  1. Hindarkan lantai yang licin.
  2. Gunakan bed yang rendah.
  3. Orientasikan pasien dengan ruangan.
  4. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  5. Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi.

Daftar Pustaka :
  • Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.
  • Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.
  • Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.
  • Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
  • Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.
  • Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002

Friday, February 10, 2012

Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan.Asuhan keperawatan ini adalah satu hal yang tidak akan terlepas dari pekerjaan seorang perawat dalam menjalankan tugas serta kewajibannya terhadap para pasiennya.Karena melalui asuhan keperawatan inilah perawat bekerja dalam melayani pasien-pasiennya.Semoga artikel Asuhan Keperawatan ini bergna serta bermanfaat sahabat.

Asuhan Keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien / pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah keperawatan sebagai suatu profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.

Proses Keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien / klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah) Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi).
Menurut Ali (1997)

asuhan keperawatan, pengertian asuhan keperawatan,Blog Keperawatan

Asuhan keperawatan diberikan dalam upaya memenuhi kebutuhan klien / pasien.
Menurut Abraham Maslow ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu :
  • Kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi
  • Kebutuhan rasa aman dan perlindungan
  • Kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki
  • Kebutuhan akan harga diri
  • Kebutuhan aktualisasi diri
Jadi bila menilik hasil dari pengertian di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan asuhan keperawatan adalah merupakan seluruh rangkaian proses keperawatan yang diberikan kepada pasien yang berkesinambungan dengan kiat-kiat keperawatan yang di mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi dalam usaha memperbaiki ataupun memelihara derajat kesehatan yang optimal.

Tujuan Asuhan Keperawatan.
Pemberian Asuhan Keperawatan mempunyai beberapa tujuan diantaranya yaitu :
  1. Membantu individu untuk mandiri
  2. Mengajak individu atau masyarakat berpartisipasi dalam bidang kesehatan
  3. Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal agar tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatannya
  4. Membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal

Fungsi Proses Keperawatan
Proses keperawatan pun mempunyai fungsi dan fungsinya antara lain adalah :
  1. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi tenaga keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan .
  2. Memberi ciri profesionalisasi asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah dan pendekatan komunikasi yang efektif dan efisien.
  3. Memberi kebebasan pada klien untuk mendapat pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhanya dalam kemandirianya di bidang kesehatan.

Tahap-Tahap Proses Keperawatan
Tahap Dalam Proses Keperawatan ini adalah lima yaitu :

1. Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.
Tahap ini mencakup tiga kegiatan, yaitu Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah kesehatan serta keperawatan.

a. Pengumpulan data
Tujuan : Diperoleh data dan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Data tersebut harus akurat dan mudah dianalisis.

Jenis data antara lain: Data Objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit. Data subjekif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari keluarga pasien / saksi lain misalnya; kepala pusing, nyeri dan mual.

Adapun fokus dalam pengumpulan data meliputi :
  • Status kesehatan sebelumnya dan sekarang
  • Pola koping sebelumnya dan sekarang
  • Fungsi status sebelumnya dan sekarang
  • Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan
  • Resiko untuk masalah potensial
  • Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien
b. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.

c. Perumusan Masalah
Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan Asuhan Keperawatan (Masalah Keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis. Selanjutnya disusun diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas.

Prioritas masalah ditentukan berdasarkan kriteria penting dan segera.
Penting mencakup kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan Segera mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah atau kematian.

Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu : keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan keperawatan.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah
(Carpenito,2000).
Perumusan diagnosa keperawatan :
  • Aktual : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
  • Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi.
  • Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
  • Wellness : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
  • Syndrom : diagnose yang terdiri dari kelompok diagnosa keperawatan actual dan resiko tinggi yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.
3. Rencana keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994).
Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi konyinuitas asuhan perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten.

Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang(potter,1997)

4. Implementasi keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
Adapun tahap-tahap dalam implementasi keperawatan adalah sebagai berikut :
  1. Tahap 1 : Persiapan. Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.
  2. Tahap 2 : Intervensi. Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen, dependen, dan interdependen.
  3. Tahap 3 : dokumentasi. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

5. Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman / rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya.

Adapun tujuan dari sasaran evaluasi adalah sebagai berikut :
  • Proses asuhan keperawatan, berdasarkan kriteria / rencana yang telah disusun.
  • Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi.
Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :
  1. Tujuan tercapai, apabila pasien telah menunjukan perbaikan / kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
  2. Tujuan tercapai sebagian, apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya.
  3. Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan / kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan.
Setelah seorang perawat melakukan seluruh proses keperawatan dari pengkajian sampai dengan evaluasi kepada pasien ,seluruh tindakannya harus didokumentasikan dengan benar dalam dokumentasi keperawatan.
Dokumentasi Keperawatan adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang
(potter 2005).
Demikian tadi sahabat-sahabat serta rekan-rekan semua mengenai asuhan keperawatan dan semoga hal ini dapat berguna bagi kita semua khususnya para rekan sejawat perawat.